Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Sunday,27 May 2018
Sumantri Suwarno adalah Peminat Isu-isu Publik dan Ketua Bidang Ekonomi PP GP Ansor

Pemerintah, Sharing Economy, dan Setoran Sehari

Dumai – Hari ini kita melihat banyak kejadian yang memilukan di jalanan Jakarta. Di beberapa tempat, (dari banyak gambar yang lalu lalang di Twitter )  terjadi konflik antara sopir taksi konvensional dengan pengemudi-pengemudi angkutan berbasis aplikasi online.

Bahkan sesama sopir taksi konvensional pun saling hadang, saling pukul, dan bahkan diwarnai perusakan taksi. Di gambar yang lain, seorang pria paruh baya yang mengenakan jaket sebuah angkutan berbasis aplikasi, berdarah-darah setelah dikeroyok sopir taksi. Tiba-tiba kita melihat keberingasan di sana –sini.

Semua berawal dari demo yang dilakukan oleh PPAD (Paguyuban Pengemudi Angkutan Darat) melanjutkan demo minggu sebelumnya, Senin (14/3). Tuntutan dari para pendemo anggota PPAD ini masih sama dengan demo sebelumnya yaitu menuntut ketegasan pemerintah untuk menindak jasa angkutan berbasis aplikasi yang mereka anggap melanggar regulasi.

“Kominfo masih membiarkan transportasi online ini mendompleng transportasi. Kami yang legal pun merasa dianaktirikan. Pemerintah apa yang dibela? Mereka tidak bayar pajak kok,” kata Daelani, seorang pendemo.

Dalam beberapa kesempatan naik taksi, saya juga mencoba menanyakan apakah dampak kehadiran jasa angkutan berbasis aplikasi ini benar-benar terasa. Sebagian sopir mengatakan mereka sangat terpukul. Bahkan, beberapa sopir mengatakan mereka sering menghadapi situasi KS (kurang setor), yaitu gagal memenuhi setoran minimal harian.

Ini biasanya untuk sopir yang bekerja dengan sistem setoran. Sementara buat sebagian sopir lain, yang menggunakan sistem komisi, mengeluhkan komisi yang sangat pas-pasan. Sangat jelas untuk dapat diambil kesimpulan, bahwa kehadiran transportasi online ini memukul sebagian besar sopir angkutan konvensional.

Komentar

komentar