Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Thursday,20 September 2018
Foto: Santoso (tempo.co)

Ingin Bergabung dengan Kelompok Teroris Santoso, Dua Warga Dumai Ditangkap

Pekanbaru – Dua warga Kota Dumai diamankan Satuan Tugas Operasi Tinombala karena diketahui hendak bergabung dengan Kelompok Santoso di Poso, Sulawesi tengah.

“Kita dapat informasi dari Satgas Sinombala di sana, ada dua warga Dumai yang tertangkap yang indikasinya akan bergabung dengan kelompok Santoso,” kata Direktur Intelijen dan Keamanan Polda Riau, Kombes Djati Wiyoto, Senin (2/5/2016).

Kedua warga Kota Dumai bernama Ovan Fadlan dan Dede Suwaryadi itu diamankan saat masih berada di Kota Poso, dan belum sempat bergabung dengan kelompok militan.

Menurut Djati, terungkapnya dua warga Dumai itu setelah Satgas Operasi Tinombala menangkap Ovan pada Minggu (1/5/2016) kemarin. Kemudian, dari pengembangan petugas kemudian menangkap Dede. “Jadi Ovan yang tertangkap terlebih dahulu baru kemudian si Dede,” jelasnya.

Setelah mendapat informasi penangkapan tersebut, ia mengatakan pihaknya langsung melakukan penyelidikan. Hasilnya didapat bahwa sepekan sebelum penangkapan tersebut, istri dari Dede diketahui pernah melapor ke Polsek di Dumai bahwa suaminya menghilang. Dari situ pengembangan terus dilakukan sehingga diketahui sebelum Dede menghilang ternyata yang bersangkutan intens berhubungan dengan Ovan.

Ia menduga bahwa Ovan merupakan orang yang merekrut Dede untuk bergabung dengan kelompok yang saat ini masih diburu oleh petugas gabungan TNI dan Polri tersebut.

“Jadi sebelumnya kita mendapatkan laporan Dede menghilang. Kita telusuri dan kita tanya kepada keluarganya tentang siapa saja teman Dede ini. Dari pihak keluarga menyebut bahwa Dede bergaul dengan Ovan. Sejak berteman dengan Ovan inilah sikap Dede berubah,” jelasnya.

Saat ini kedua warga Dumai tersebut masih diperiksa intensif di Poso. Ia mengatakan petugas berupaya mendalami dan membongkar siapa saja yang telah direkrut oleh jaringan ini dari Riau.

Polisi mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati karena jaringan Santoso terus berusaha merekrut orang-orang baru. Bahkan, Djati menyebut perekrutan dilakukan melalui media sosial.

“Ini perlu diwaspadai, kita harus bijak dan hati-hati dalam menggunakan media sosial dan internet. Karena jaringan ini menerapkan pola perekrutan seperti itu,” tandasnya. (inilah.com)

Komentar

komentar