Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Sunday,22 July 2018
Ilustrasi kebiri (IST)

IDI Dumai Nilai Hukum Kebiri Bertentangan dengan Keilmuwan

Dumai – Ikatan Dokter Indonesia Kota Dumai menilai hukuman suntik kebiri bagi penjahat seksual sangat bertentangan atau tidak sesuai dengan keilmuan kedokteran, karena itu sepakat untuk menolak sebagai pelaksana.

Ketua IDI Kota Dumai dr Ferianto di Duma, Rabu, menyebutkan, hukuman kebiri bagi penjahat seksual dinilai sangat bertentangan dengan ilmu kedokteran dan akan membawa dampak buruk terhadap psikis pelaku.

“Secara keilmuwan sudah jelas bertentangan dan daripada kebiri lebih baik pelaku kejahatan seksual tersebut dihukum mati,” kata Ferianto, Rabu (1/6).

IDI Dumai juga memandang hukuman kebiri juga bertentangan dengan kode etik profesi kedokteran dan kurang memberikan efek jera kepada pelaku kejahatan seksual tersebut.

Meski resminya IDI Dumai yang beranggotakan sekitar 180 dokter ini belum menerima edaran pengurus pusat terkait penolakan hukum kebiri, tapi mengetahui dari pemberitaan di media massa.

Ketua Front Pembela Islam Kota Dumai Azwar Djas juga menyatakan tidak setuju atas isi dari Perppu nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak tersebut.

Menurut dia, dalam hukum Islam pelaku kejahatan seksual dihukum dera atau dipukul 100 kali bagi perempuan dan lelaki belum menikah berzinah dan rajam dilempar dengan batu untuk pasangan yang sudah menikah.

“Hukuman mati lebih baik daripada kebiri karena efeknya lebih terasa bagi pelaku,” ungkap Azwar.

Sedangkan Direktur RSUD Dumai dr Syaiful mengaku siap melaksanakan hukuman kebiri sesuai hasil di pengadilan nantinya, namun sejauh ini pihaknya belum menerima turunan surat atau sosialisasi lain.

“Hingga kini kita belum mengetahui peran rumah sakit dalam pelaksanaan Perppu nomor 1 tahun 2016 tersebut, tapi intinya siap untuk melaksanakan hukuman kebiri ini jika sudah diputuskan pengadilan,” katanya kepada wartawan. (Antara)

Komentar

komentar