Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Sunday,21 October 2018
Ilustrasi (IST)

Pemberantasan Korupsi Bisa Belajar dari Revolusi Prancis

Jakarta – Ketua Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, pemberantasan korupsi harus melibatkan berbagai macam elemen masyarakat.

Saat ini di Indonesia, gerakan antikorupsi masih menjadi gerakan yang elitis dan belum menyentuh seluruh masyarakat.

“Yang paling banyak terlibat dalam gerakan antikorupsi sekarang ini adalah kelompok elit. Kelas menengah, intelektual, aktivis,” kata Dahnil dalam Konvensi Antikorupsi 2016 di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Sabtu (18/6).

Dahnil berharap gerakan antikorupsi dapat dilakukan dari tingkatan paling dasar di masyarakat. Untuk mencapai itu, kata dia, gerakan pemberantasan korupsi dapat belajar dari Revolusi Prancis.

“Kalau kita belajar dari Revolusi Prancis, masyarakat di bawah terlibat. Itulah mengapa revolusi Perancis berhasil. Gerakan perubahan harus terlibat dari gerakan yang paling bawah,” ucapnya.

Salah satu yang dapat membuat masyarakat akrab akan tindakan dan makna dari korupsi, Dahnil menyarankan perubahan istilah “koruptor” menjadi “maling”.

Ia juga mengajak awak media untuk menulis maling dalam pemberitaannya mengenai koruptor.

“Ada permasalahan dengan sisi antropologi dengan kata korupsi. Agaknya penting kita berikan simbolisasi yang tegas dan keras. Wartawan sebut maling saja agar masyarakat lebih paham,” tutur dia.

Komentar

komentar