Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Tuesday,23 October 2018
Ilustrasi perikanan (ANTARA | FILES)

Perikanan Riau Naik 0,43 Persen

Pekanbaru – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat bahwa pada Mei 2016, nilai tukar subsektor perikanan Riau mengalami kenaikan sebesar 0,43 persen.

“Kenaikan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,78 persen, relatif lebih besar dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,35 persen,” kata Kepala BPS Riau, Mawardi Arsad di Peknabaru, Jumat (10/6).

Menurut Mawardi, naiknya indeks harga yang diterima petani pada Mei 2016 disebabkan oleh naiknya indeks harga yang diterima petani pada kelompok perikanan tangkap sebesar 1,12 persen dan kelompok perikanan budidaya sebesar 0,20 persen khususnya udang, bawal, lele, patin dan lainnya.

Ia mengatakan, naiknya indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,49 persen khususnya gula pasir, rokok kretek filter, daging ayam ras, gabus, kacang panjang, rokok kretek dan lainnya.

“Untuk Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) tercatat sebesar 0,03 persen khususnya benih patin, benih nila, benih lele dan lainnya,” katanya.

Sama halnya dengan kelompok penangkapan ikan (NTN) pada Mei 2016, juga mengalami kenaikan sebesar 0,79 persen jika dibandingkan dengan NTN bulan sebelumnya.

Hal ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 1,12 persen, relatif lebih besar dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,33 persen.

“Kenaikan indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh naiknya indeks harga di sebagian besar ikan pada kelompok penangkapan perairan umum sebesar 1,41 persen dan kelompok penangkapan laut sebesar 1,03 persen (khususnya udang, bawal, patin dan lainnya,” katanya.

Khususnya kenaikan indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,50 persen (khususnya gula pasir, rokok kretek filter, daging ayam ras, gabus, kacang panjang, rokok kretek dan lainnya.

Sementara itu indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) mengalami penurunan sebesar 0,04 persen khususnya solar.

Sedangkan untuk kelompok budidaya ikan (NTPi) pada Mei 2016, justru mengalami penurunan sebesar 0,18 persen. Penurunan ini disebabkan oleh naiknya indeks harga yang diterima petani sebesar 0,20 persen, relatif lebih kecil dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,38 persen.

Naiknya indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh naiknya indeks harga sebagian besar ikan pada kelompok budidaya air tawar sebesar 0,20 persen khususnya lele, nila dan gurame.

“Kenaikan indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,48 persen (khususnya khususnya gula pasir, rokok kretek filter, daging ayam ras, gabus, kacang panjang, rokok kretek dll) dan naiknya indeks BPPBM sebesar 0,14 persen khususnya benih patin, benih nila, benih lele dan lainnya,” katanya. T.F011 (Antara)

Komentar

komentar