Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Friday,19 October 2018
Susanto, Wakil Ketua KPAI. (Foto: Dok. Pribadi)

Menjadi Orangtua Hebat di Era Kini

Jakarta – Kasus kekerasan seksual dengan modus baru menggunakan gagang cangkul, dengan pelaku anak telah divonis 10 tahun oleh Pengadilan. Kasus ini cukup menyita perhatian publik di tengah Presiden serius merespon maraknya kejahatan seksual terhadap anak, hingga menerbitkan Perppu, yang dikenal dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

RA, (16 tahun), mengakui ikut melakukan pembunuhan sadistis terhadap Enno Farihah, 19 tahun, karyawan pabrik plastik di Kosambi, Tangerang, secara sadar. Pelajar kelas III sekolah menengah pertama itu tega membunuh lantaran kesal karena korban menolak berhubungan intim.

Anak sebagai pelaku tindak pidana masih menjadi masalah serius di Indonesia. Hasil pantauan KPAI Tahun 2015 di 7 Provinsi dengan sampel 134 anak berhadapan dengan hukum (ABH) yang berada di LAPAS ditemukan fakta sebagai pelaku pencurian 32%, pelaku kekerasan seksual 30%, pelaku pembunuhan 21 %. Meski dari sisi kuantitas, tentu lebih banyak generasi Indonesia yang berkarakter baik, dibandingkan anak yang mengalami masalah perilaku, namun potret kasus ini menandakan kerentanan anak menjadi pelaku tindak pidana tergolong tinggi, jenis tindak pidana beragam dan modusnya semakin canggih.

Penyimpangan Perilaku

Perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial. Setidaknya terdapat 5 tipologi penyimpangan perilaku pada anak, yaitu: penyimpangan primer, penyimpangan sekunder, penyimpangan individu, penyimpangan kelompok dan penyimpangan situasional.

Pertama, penyimpangan primer. Jenis penyimpangan primer merupakan penyimpangan yang bersifat temporer atau sementara. Penyimpangan ini tak permanen dan hanya terlihat dari sebagian kecil perilaku dalam kehidupan anak.

Anak yang menunjukkan tindakan penyimpangan temporer ini masih dapat ditolerir. Misalnya: siswa membolos atau mencontek pekerjaan temannya. Karakteristik dari penyimpangan primer antara lain: bersifat sementara, gaya hidupnya tidak didominasi oleh perilaku menyimpang, kesalahannya masih dapat ditolerir.

Kedua, penyimpangan sekunder. Jenis penyimpangan sekunder merupakan bentuk penyimpangan yang bukan lagi sementara, tetapi sudah menjadi kebiasaan. Anak disebut melakukan penyimpangan sekunder karena ia sudah terbiasa menunjukkan tindakan menyimpang.

Karakteristik dari penyimpangan sekunder yaitu: gaya hidupnya didominasi dengan penyimpangan perilaku, sementara sekolah tidak mentorerir terhadap perilaku menyimpang dimaksud.

Ketiga, penyimpangan individu yaitu jenis penyimpangan yang dilakukan secara perorangan oleh anak. Penyimpangan ini ditunjukkan anak dengan melakukan perbuatan yang menyimpang dari norma sistem sosial. Misalnya: siswa mencuri uang milik temannya, padahal norma sosial telah melarangnya.

Keempat, penyimpangan kelompok. Penyimpangan kelompok merupakan tindakan menyimpang yang dilakukan secara berkelompok. Anak yang berkelompok dan melakukan tindakan menyimpang, biasanya memposisikan diri sebagai pihak yang mampu menunjukkan identitas kuasa. Tindakan perkosaan secara berkelompok, umumnya bukan karena adiksi seksual, tetapi kecenderungannya karena faktor dendam dan dominasi seksualitas.

Kelima, penyimpangan situasional. Penyimpangan jenis ini disebabkan oleh pengaruh situasi yang sedang terjadi. Situasi yang dimaksud yaitu situasi atau keadaan di luar kendali seorang siswa. Misalnya: awalnya seorang tidak berniat melakukan tawuran, namun karena dipaksa dan diancam oleh senior, maka terpaksa mengikuti tawuran.

Melihat ragam penyimpangan tersebut, menunjukkan bahwa perilaku menyimpang pada anak terkadang bersifat temporal, sebagian telah menjadi kebiasaan, tak hanya dilakukan secara individu, namun juga dilakukan secara berkelompok.

Pergeseran Peran Orangtua

Perubahan sosial-ekonomi dan perkembangan teknologi yang sangat pesat, tampaknya berpengaruh terhadap pergeseran fungsi dan peran keluarga. Jika sebelumnya, orangtua sebagai tempat bertanya, tempat berkonsultasi dan sumber nilai, saat ini fungsi itu seringkali tak diperankan orangtua.

Kesulitan mencari informasi baru, anak lebih memilih Google daripada bertanya kepada orangtua. Bagi orangtua yang terbatas waktu bertemu dengan anak, membuat anak menjadikan pengasuh dan orang sekitar sebagai figur pengganti dan sumber nilai.

Menurut William F Ogburn (Goode,2007: 215) terjadinya perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang pesat menjadi faktor utama terjadinya pergeseran peran orangtua. Menurutnya, keluarga modern telah kehilangan fungsinya karena adanya industrialisasi.

Industrialisme modern telah berpengaruh terhadap peran ibu, satu sisi ibu memiliki kebebasan ekonomi, namun di pihak lain tetap berperan mengurus tugas-tugas keluarga termasuk pengasuhan. Mengingat interaksi ibu dengan anak terbatas, seringkali kaum ibu memilih pola memanjakan daripada memandirikan. Hal ini sebagai bentuk pilihan kompensasi, agar anak dekat dengan orangtua.

Pergeseran pola pengasuhan orangtua dewasa ini, setidaknya terpotret ke dalam dua tipologi:

Pertama, pengasuhan permissive-indulgent adalah suatu gaya pengasuhan di mana orang tua terlibat dalam kehidupan anak, tetapi menetapkan sedikit kendali atas mereka. Pengasuhan jenis ini diasosiasikan dengan kurangnya kemampuan pengendalian diri anak, karena orangtua cenderung membiarkan anak-anak mereka melakukan apa saja yang mereka inginkan, akibatnya anak-anak tidak pernah belajar mengendalikan perilaku mereka sendiri dan selalu mengharapkan agar semua kemauannya dituruti.

Kedua, pengasuhan permissive-indefferent, yaitu suatu gaya pengasuhan di mana orangtua tidak terlibat dalam kehidupan anak. Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua jenis ini cenderung kurang percaya diri, pengendalian diri yang buruk, dan rasa harga diri yang rendah.

Kecenderungan proses berkeluarga yang terjadi dewasa ini lebih mekanistis, sehingga peran pengasuhan orangtua terjadi distorsi. Aktivitas orangtua yang sangat sibuk meminimalisir proses sosialisasi dengan anak. Adanya lembaga non-keluarga seperti: tempat penitipan anak, kelompok bermain, taman kanak-kanak dan sekolah telah menyedot sebagian kehidupan anak dari proses di dalam keluarga. Dengan demikian posisi keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama bagi anak mengembangkan pribadinya kini bahkan mulai tergeser posisinya oleh sekolah dan lingkungan sosialnya.

Menjadi Orangtua Hebat

Orangtua hebat di era kini, berbeda dengan masa lampau. Dulu, orangtua menjadi figur panutan anak dalam keluarga, namun dewasa ini posisi orangtua cenderung terjadi distorsi. Proses belajar sosial anak seringkali lebih banyak kepada di luar figur orangtua.

Media, game, teman sebaya serta pengasuh merupakan sumber belajar sosial yang lekat dengan anak. Jika sebelumnya, bentakan, cubitan, ancaman dalam mendidik anak seringkali dipahami sebagai cara yang tepat, namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, gaya pengasuhan demikian tak direkomendasikan lagi, karena menimbulkan efek negatif bagi tumbuh kembang anak.

Menjadi orangtua merupakan pilihan hidup dan hampir dipastikan semua pasangan ingin memiliki buah hati. Namun orangtua hebat dewasa ini tidaklah mudah, karena dihadapkan kompleksitas tantangan dan hambatan, baik bersifat internal maupun eksternal. Setidaknya, terdapat 6 (enam) perilaku positif sebagai pondasi menjadi orangtua hebat, yakni:

Pertama, mengembangkan kelekatan. Munculnya ragam kasus kriminal yang melibatkan anak sebagai pelaku penting menjadi perhatian. Sebuah riset berjudul “A Focused on Child Abuse in Six Selected Provinces in Indonesia” ditemukan perlakuan salah pada anak (maltreated) ternyata sebagian besar sebagai akibat dari pola asuh dalam keluarga.

Kualitas kelekatan anak dengan orang tua merupakan sumber emosional dan kognitif bagi anak. Selama ini orang seringkali menyamakan kelekatan dengan ketergantungan (dependency), padahal mengandung makna berbeda. Ketergantungan anak pada figur tertentu timbul karena tidak adanya rasa aman. Anak tidak dapat melakukan otonomi jika tidak mendapatkan rasa aman. Hal inilah yang akan menimbulkan ketergantungan pada figur tertentu sedangkan kelekatan adalah kepercayaan yang tumbuh yang dapat memberikan ketenangan.

Sebagian besar anak telah membentuk kelekatan dengan pengasuh utama (primary care giver) dengan proporsi 50% pada ibu, 33% pada ayah dan sisanya pada orang lain (Sutcliffe, 2002). Kualitas kelekatan mempengaruhi konstruksi mental, performa pengendalian diri dan keterampilan sosial. Beberapa penelitian membuktikan bahwa anak yang memiliki kelekatan aman dalam pengasuhan akan menunjukkan kompetensi sosial baik, lebih mampu menangani tugas sulit serta tidak cepat berputus asa. Sebaliknya, anak yang mengalami gangguan kelekatan (attachment disorder) dengan figur lekatnya, akan membuat anak mengalami masalah sosial dan perilaku menyimpang.

Kedua, menghindari ketidakhadiran ayah (fatherness). Fatherless adalah ketiadaan peran dan figur ayah dalam kehidupan seorang anak baik secara fisik maupun psikologis. Performansi perilaku anak, sangat dipengaruhi kehadiran seorang ayah.

Dampak fatherless pada anak, di antaranya: memiliki masalah dengan gangguan kecemasan, depresi, perilaku menyimpang dam menurunkan performansi akademik di sekolah, rendah diri (self-esteem), perasaan marah (anger), rasa malu (shame), merasa kehilangan (lost) dan rendahnya kontrol diri (self-control), (Kruk, 2012).

Di lain pihak, penelitian terhadap kerentanan keluarga dan survei well-being anak, ditemukan bahwa seorang ayah yang memiliki anak dengan lebih dari satu pasangan akan mempengaruhi kesehatan anak saat remaja dan penyimpangan perilaku, baik secara langsung maupun tidak langsung. Keberadaan ayah dan kesetiaan ayah untuk tidak berbagi dengan anak dengan ibu yang lain, akan memberikan well-being pada diri anak yang berujung pada kualitas kesehatannya.

Ketiga, mengembangkan harmoni dan kasih sayang. Menurut Alfie Kohn (2015), cinta yang tulus dari kedua orangtua akan lebih efektif untuk mengarahkan, mendidik serta membuat anak lebih bertanggung jawab. Jika oangtua yang memberikan ketulusan tanpa syarat pada anaknya, maka anak akan tumbuh hormat, kontrol diri tinggi dan memiliki mekanisme filter perilaku yang kuat.

Sementara, penelitian kriminalitas usia anak di Amerika Serikat menemukan bahwa pelaku kejahatan oleh anak cenderung dipengaruhi oleh faktor kondisi keluarga yang tidak harmonis, tanpa pengawasan yang cukup serta sering menjadi korban kekerasan dan pengabaian (Brown, 2010).

Keempat, internalisasi nilai karakter sejak dini. Setiap anak yang lahir di bumi, ditakdirkan berkarakter baik, perbedaan proses belajar sosial yang menjadikan satu sama lain berbeda perkembangan perilakunya.

Menurut Freud (Santrock, 2012) kepribadian dasar seseorang dibentuk dalam kurun waktu lima tahun dari kehidupan, sehingga pengalaman masa awal mempunyai peran yang lebih penting dibandingkan dengan masa selanjutnya. Maraknya, anak menjadi pelaku kriminal, kejahatan seksual, pembunuhan, tidak semata-mata karena proses belajar sosial yang diperoleh di luar institusi keluarga, namun sebagai dampak dari pola asuh saat usia dini. Konsekuensinya, orangtua penting mengenalkan nilai kebaikan, membiasakan kecintaan kepada hal-hal yang baik dan berperilaku baik sejak usia dini.

Kelima, menjadi model yang tepat untuk anak. Studi Bandura ditemukan bahwa keluarga secara sistematis dapat membentuk pola ingatan yang tergambar dalam kebiasaan bertingkah laku anak melalui peniruan (imitating) dan pemodelan (modeling).

Namun, seringkali perilaku agresif orangtua tanpa disadari telah menjadi model bagi anak dalam proses belajar sosialnya. Hasil penelitian Scholte (2006) menemukan remaja berusia 15 tahun yang terlibat perkelahian, kenakalan remaja, perilaku tindak pidana tampaknya berhubungan erat dengan teman sebaya yang mengalami masalah dalam pengasuhan.

Keenam, mengembangkan literasi media pada anak. Tak dapat dipungkiri, ‘persahabatan’ media dengan anak semakin erat. Saat media menampilkan muatan edukatif, maka stimulasi performansi kepribadian anak cukup positif.

Sebaliknya, adanya tampilan di layar kaca yang sarat dengan kekerasan, begal, pelecehan seksual dan pembunuhan, maka perlu diimbangi kemampuan literasi media yang memadai. Menurut Myers (2012) muatan kekerasan yang muncul di media bisa berdampak pada keterbangkitan fisik (arousal dan memicu perilaku agresif yang berhubungan dengan kekerasan (violence-related).

Konsekuensinya, penumbuhan budaya literasi media perlu ditanamkan pada anak sejak dini. Literasi media merupakan “ability to access, analize, evaluate and communicate the content of media messages”. Literasi media merupakan upaya menanamkan kemampuan anak untuk memahami, menganalisis dan memfilter pencitraan yang ada pada media. Semoga…!

*) Susanto, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

(dtc)

 

Komentar

komentar