Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Friday,20 April 2018
Foto: Christina Rantetana (dok.MNOL)

Christina M Rantetana, Wanita Jenderal Bintang Dua Pertama di ASEAN

Sepanjang sejarah TNI AL, hanya ada satu wanita yang menyandang bintang di pundaknya. Dialah Laksamana Pertama Christina Maria Rantetana, satu-satunya wanita yang menjadi perwira tinggi di tubuh TNI AL.

Christina pernah bertugas sebagai Staf Ahli Menkopolhukam bidang Ideologi dan Konstitusi, sekaligus PLT Deputi 6 bidang Kesatuan Bangsa di kantor yang sama pada 2010.

Wanita kelahiran Tanah Toraja 61 tahun lalu ini, bergabung bersama TNI AL melalui program sekolah perwira sukarela tahun 1979.

Berbagai penugasan pernah dijalani sarjana kesehatan masyarakat ini. Termasuk berkiprah di Senayan selama 2 periode di Fraksi TNI Polri tahun 1997-1999, dan tahun 1999-2004. Pada periode inilah, ibu 5 anak tersebut menjadi sekretaris Fraksi TNI Polri.

Pada tanggal 1 November 2002, Laksamana Bernard Kent Sondakh melantiknya menjadi perwira tinggi wanita pertama TNI AL.

“Saya bangga negara mempercayai saya. Tapi ini juga tantangan karena tugas perwira tinggi itu tidak ringan,” ujar Christina usai perayaan HUT ke-47 Kowal di Mabes TNI AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (5/1/2010).

Christina mengaku selalu bekerja keras dan terus bekerja cerdas. Menjadi seorang ibu, sekaligus seorang laksamana dengan tugas menumpuk tentu tidaklah mudah.

“Saya bagi skala prioritas. Kadang saya kerja malam-malam,” terangnya.

Christina melihat kultur yang ada di masyarakat kurang membuat wanita bisa berkiprah. Menurutnya, dalam pola pikir masyarakat, wanita masih identik dengan konsumsi, protokoler, administrasi atau kesehatan.

“Ini kultur yang secara perlahan-lahan harus diubah. Di Australia, wanita sudah bisa bekerja di kapal selam,” terangnya.

Christina pun berharap, suatu saat Kowal dapat bertugas secara reguler di kapal perang, atau menjadi bagian inti dari pasukan elit TNI AL seperti Denjaka dan Taifib.

“Why not?” tukas Master of Public Health, lulusan Tulane University, New Orleans, ini.

Sebagai langkah awal, Christina berharap Akademi Angkatan Laut (AAL) mau membuka kesempatan bagi remaja putri untuk mendaftar.

Menurutnya, sulit bagi wanita lulusan sarjana yang masuk melalui jalur untuk perwira karir bersaing dengan lulusan AAL, karena perbedaan spektrum penugasan.

Bukan tidak mungkin AAL membuka kesempatan bagi remaja putri. Karena Akademi Kepolisian pun sudah membuka kesempatan bagi wanita untuk menjadi taruna.

“Waktu itu pelantikan anak saya dari Akpol, saya beri selamat pada para taruna putri yang lulus. Saya bilang selamat, kalian hebat. Mereka bilang, ibu yang hebat sudah brigjen. Saya balas saya tidak bisa jadi KSAL, tapi kalian bisa jadi Kapolri karena lulusan Akpol,” kisahnya.

Pangkat Laksamada Muda TNI AL diraihnya pada 2013 saat menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Ideologi da Konstitusi Kemenkopolhukam RI. Ini menjadikannya sebagai sebagai jenderal bintang dua wanita pertama di ASEAN. Pada Minggu (31/7/2016), Christina Rantetana meninggal di RSAL Mintoharjo, Jakarta Pusat akibat penyakit yang dideritanya dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Toraja.

Komentar

komentar