Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Monday,22 October 2018
Jengkol (IST)

Liburan, Mahasiswi Ini Jual Jengkol

Jakarta – Cindy Puspa Argarini memilih menghabiskan masa liburan panjang kuliahnya dengan berjualan jengkol. Ternyata melambungnya harga jengkol hingga Rp 50 ribu per kilogram, salah satu penyebab hingga mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris Universitas Muhamadyah Bengkulu itu rela menghabiskan masa liburan di kampungnya, Desa Ulu Talo, Seluma.

“Ayah saya punya banyak pohon jengkol, harga sedang mahal. Sayang kalau tak ada yang memanen,” kata Cindy di rumahnya, Senin, (1/8). Cindy mengaku sebelumnya ia tak pernah tertarik memanen dan menjual jengkol. Kali ini ia merasa sangat sayang jika melewatkan masa panen raya di tengah harga jengkol yang melangit.

Gadis 21 tahun ini mengaku meraup hampir Rp 5 juta dari hasil menjual jengkol. Jengkol di kebun ayahnya itu sebenarnya, menurut Cindy, tidak sengaja ditanam. Pohon berbau khas itu tumbuh sendiri di kebun karet ayahnya. Jumlahnya pun tidak banyak hanya 15 batang. Sebagian baru berbuah tahun ini sehingga hasil panennya belum terlalu banyak.

Biasanya mereka tak pernah menjual jengkol itu. Kebanyakan buah itu untuk dikonsumsi sendiri atau dibagikan kepada tetangga dan sanak famili di desa dan di Kota Bengkulu. Masyarakat desanya pun belum menjadikan komoditas lokal ini sebagai sumber mata pencaharian. Mayoritas mereka petani karet dan kelapa sawit.

“Menurut saya, jengkol dan petai adalah komoditas yang bisa dikembangkan secara serius bukan sebagai tanaman selingan belaka, karena nilai ekonominya cukup menjanjikan,” ujar Cindy. Dan Cindy mengaku tidak malu berjualan jengkol. Justru dia bangga selama liburan bisa membantu ayahnya dan menghasilkan uang.

Berdasarkan pantauan, saat ini harga jengkol di pasaran masih tinggi. Meski masuk masa panen, harga jengkol Rp 36 ribu per kg. “Ini mulai turun, sepekan lalu harganya Rp 50 ribu per kg,” kata Juni, pedagang di Pasar Panorama, Kota Bengkulu. Ia mengaku harga jengkol bertahan cukup lama di kisaran Rp 50-60 ribu per kg sejak Lebaran lalu.

Selain karena faktor kelangkaan, tingginya harga komoditas yang tergolong dalam suku polong-polongan itu, juga dikarenakan tingginya permintaan dari masyarakat. “Walaupun mahal, mereka tetap mau membeli makanya harga jengkol tetap tinggi,” ujar Juni.

Tak hanya jengkol, harga petai pun masih menjadi barang mahal, mengalahkan harga ayam potong. Satu papan petai saat ini dihargai Rp 7.000, dan seikatnya berisi 5 papan dibanderol Rp 30 ribu. “Tadi niatnya mau beli, tapi tahu harganya semahal itu gak jadi. Mending beli tahu Rp 7.000 suda dapat sekantong,” kata Sri, pembeli di pasar tersebut. (Tmp)

Komentar

komentar