Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Thursday,13 December 2018
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IST)

Pertumbuhan Ekonomi Capai 5,18 Persen

Jakarta – Badan Pusat Statistik mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2016 mencapai 5,18 persen (year on year) atau 4,02 persen (quartal to quartal). Sementara itu, Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 2.353,2 triliun dan PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp 3.086,6 triliun.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, pertumbuhan ekonomi tersebut lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2016 yang mencapai 4,91 persen dan triwulan II 2015 yang mencapai 4,66 persen. Menurut dia, secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi pada semeseter I tahun ini dibandingkan semester I tahun lalu tumbuh 5,04 persen.

“Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II ini juga mulai naik dibandingkan triwulan II pada tahun-tahun sebelumnya. Secara quartal to quartal, pertumbuhan tersebut juga lebih baik dibandingkan triwulan II 2015 dan juga triwulan II 2014,” kata Suryamin dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Jumat (5/8).

Menurut data BPS, secara quartal to quartal, pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, yakni sebesar 11,9 persen. Menurut Suryamin, hal itu dipengaruhi oleh bergesernya masa panen sehingga pertumbuhan di sektor tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I lalu.

Pertumbuhan tertinggi juga terjadi di sektor jasa pendidikan sebesar 6,36 persen. Setelah itu, peringkat ketiga diisi oleh sektor perdagangan serta reparasi mobil dan sepeda motor, yakni sebesar 3,84 persen. “Puasa dan Lebaran kemarin mendorong sektor-sektor industri, terutama perdagangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Suryamin.

Secara year on year, pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor jasa keuangan dan asuransi sebesar 13,51 persen, informasi dan komunikasi sebesar 8,47 persen, serta jasa lainnya sebesar 7,88 persen. “Sektor jasa keuangan meningkat pendapatannya dari valas dan sekuritas,” ujar Suryamin. Dia menambahkan, “Hanya sektor pertambangan saja yang turun, yakni sebesar 0,72 persen.” (Tmp)

Komentar

komentar