Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Sunday,22 July 2018

Berhati-hatilah Menebar Kebencian di Media Sosial

Dumai – Tak bisa dipungkiri jika media sosial memiliki peran ganda dalam menyampaikan informasi atau peristiwa sekecil apa pun di muka bumi ini. Ibaratnya media sosial bagai pisau bermata dua, karena selain membawa dampak positif, bisa juga negatif.

Beberapa tahun terakhir ini kita mengetahui banyak oknum atau orang yang menggunakan media sosial sebagai ujaran kebencian atau ketidaksukaannya akan sesuatu hal atau orang. Beberapa kasus itu antara lain, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta yang mengumbar kekesalannya di media sosial yang menyinggung masyarakat Yogyakarta hingga yang bersangkutan diproses kepolisian dan harus meminta maaf kepada Sri Sultan dan masyarakat Yogyakarta. Ingat juga kasus anak remaja yang mengedit gambar presiden dan gambar salah satu ketua umum partai menjadi gambar tidak senonoh hingga orangtuanya harus berurusan dengan polisi dan dipanggil ke istana negara. Yang terbaru, mengenai kericuhan di Tanjung Balai, dimana Polda Metro Jaya menangkap AT sebagai pelaku dan penyebar provokasi dan berbau SARA di media sosial, dan masih banyak kasus-kasus lain yang terjadi, atau mungkin tidak terliput di media.

Karena begitu banyak kasus-kasus ujaran kebencian (hate speech) maka kapolri mengeluarkan surat edaran soal penanganan ujaran kebencian atau hate speech, SE/06/X/2015. Surat edaran yang ditandatangani oleh Jenderal Badrodin Haiti itu menjadi panduan dalam penanganan kasus-kasus ujaran kebencian. Harapannya, anggota polri bisa mengerti dan memahami jika ada kasus ujaran kebencian di masyarakat, sehingga bisa segera dicegah agar tidak timbul pertikaian. Jika ada pertikaian, dikedepankan perdamaian pada mereka yang bertikai. Tapi jika tak bisa didamaikan, maka terpaksa diambil langkah hukum. Nah, surat edaran ini adalah panduan tentang wujud ujaran kebencian, kasus apa dan apa dasar hukumnya.

Bentuk ujaran kebencian:

  1. penghinaan,
  2. pencemaran nama baik,
  3. penistaan,
  4. perbuatan tidak menyenangkan,
  5. memprovokasi,
  6. menghasut dan
  7. penyebaran berita bohong

Aspek yang dipakai:

  1. Suku,
  2. Agama,
  3. Aliran keagamaan,
  4. Kepercayaan,
  5. Ras,
  6. Antar golongan
  7. Warna kulit,
  8. Etnis,
  9. Gender,
  10. Kaum difabel dan
  11. Orientasi seksual

Media yang dpakai untuk mengujarkan kebencian:

  1. Orasi,
  2. Kampanye,
  3. Spanduk,
  4. Media sosial,
  5. Demonstrasi,
  6. Ceramah keagamaan,
  7. Media massa (cetak dan elektronik) dan
  8. Pamflet

Agar kasus-kasus ujaran kebencian ini tidak terjadi lagi, ada beberapa tips bagi para pengguna internet (netizen) apabila menemukan akun yang menebar kebencian. Pertama, memberi peringatan atau nasihat kepada pemilik akun. Usahakan dengan bahasa yang sopan, beritahukan kepada pengguna akun bahwa hal yang dilakukan merupakan bentuk ujaran kebencian, bukan sebagai kebebasan berpendapat. Kedua, langkah selanjutnya adalah melakukan identifikasi. Tujuannya untuk mengetahui apakah pemilik akun tersebut benar sebagai penghasut atau sebenarnya hanya netizen biasa. Sesudah diidentifikasi, segera lakukan lokalisasi masalah. Tujuannya agar masalah tersebut tidak berkembang ke arah yang semakin tidak jelas. Selain itu, identifikasi juga berperan agar hasutan tersebut tidak menyebar semakin luas.

Jika pemilik akun tersebut masih kukuh dengan statusnya, cara selanjutnya adalah mengambil screenshot dari status tersebut, kemudian sebarkan saja di media sosial, dan biarkan masyarakat yang menilai. Setelah itu, si pembuat status bisa saja mendapatkan hukuman sosial dari netizen lain. Tahap terakhir, jika orang tersebut masih terus menyebarkan kebencian, laporkan saja kepada pihak berwenang, seperti kepolisian, atau ke situs media sosial. Harapannya, orang harus berani melaporkan ke Kementerian Komunikasi dan Infomatika atau kepolisian. Semoga kita semakin bijak dalam menggunakan media sosial sehingga tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.

 

*)Raymond Fransiscus Tondang

Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Sutomo, Medan

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

komentar