Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Wednesday,20 June 2018
Dok. Delegasi COP-22 dari Indonesia

Berkat Suryono, Banyak Petani Riau Beralih dari Sawit ke Sayuran

Pekanbaru – Jumlah petani Provinsi Riau yang beralih dari kelapa sawit menjadi penanam sayuran atau hortikultura semakin banyak, terutama di daerah Kecamatan Tualang Kabupaten Siak yang dimotori oleh seorang petani bernama Suryono.

“Setelah mereka melihat saya berhasil, akhirnya banyak yang mengikuti. Sedikitnya ada tiga sampai empat orang yang membabat sawit mereka, bahkan sampai pinjam alat penumbangnya ke saya,” kata Suryono ketika ditemui di Dusun Sukajaya Kampung Pinang Sebatang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Selasa.

Suryono mulai beralih dari kelapa sawit ke sayuran sejak 2013, karena melihat permintaan sayuran didaerah itu sangat tinggi namun sangat bergantung pada pasokan dari Kota Pekanbaru serta Provinsi Sumatera Barat. Beberapa jenis sayuran yang mulai ditanam Suryono antara lain kangkung, bayam, cabai, melon, semangka, kacang panjang, timun, pepaya, dan jagung.

Ketika menjadi petani sawit dengan lahan dua hektare, Suryono hanya mampu meraih penghasilan maksimal sekitar Rp2 juta-Rp3 juta per bulan. Namun, kini dengan mengolah lahan setengah hektare untuk ditanami sayuran, ia berhasil meraup penghasilan sekitar Rp15 juta per bulan. Bahkan, pada lahan yang sama itu, Suryono bisa mempekerjakan empat sampai sembilan orang warga setempat.

“Berapa pun sayuran yang bisa kita tanam akan diambil semua dipasar, tanpa perlu memperluas lahan,” kata pria 41 tahun ini.

Karena keberhasilannya, Suryono akhirnya diakui oleh Pemerintah Kabupaten Siak melalui penghargaan Adikarya Pangan Nusantara 2015, dan Petani Terbaik Siak Bidang Hortikultura 2016. Keberhasilan Suryono kini dianggap menjadi inspirasi bagi petani lain, sehingga membawanya untuk menghadiri KTT PBB Perubahan Iklim (COP-22) di Marrakesh, Maroko, pada 7-18 November 2016.

Petani lain yang mulai beralih dari sawit ke sayuran, Makmur, mengatakan dirinya tertarik fokus menanam sayuran karena ada contoh yang sudah berhasil. Sebelumnya, ia memiliki 2,5 hektare kebun sawit namun hasil yang didapatkan tidak cukup untuk kebutuhan hidup, bahkan Makmur terpaksa sempat menjual setengah hektare tanahnya.

“Sudah mati-matian saya bertani sawit tapi hasilnya masih kurang, jadi terpaksa harus cari kerja sampingan lain. Sekarang saya matikan semua sawit saya dan tanam sayur saja,” ujar lelaki 48 tahun ini.

Suryono menambahkan, kendala petani sayuran didaerah itu adalah penerapan teknologi yang masih tradisional. Dampaknya adalah saat musim hujan mereka kesulitan mengontrol air yang terlalu banyak, dan saat kemarau kesulitan air.

Namun, beberapa tahun terakhir petani setempat mulai terbantu dengan adanya program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) dari perusahaan industri kehutanan APP-Sinar Mas. Program DMPA itu membantu petani mulai dari modal. fasilitas untuk infrastrukrut pertanian, hingga bantu pemasaran hasil panen hortikultura.

“Dari DMPA saya dapat bantuan alat berat untuk bikin embung air, pembuatan infrastruktur jalan ke kebun sampai bantu memasarkan hasil panen seperti jagung dan melon ke karyawan pabrik,” kata Suryono.

Sementara itu, Director of APP on Strategic Corporate Relation Elim Sritaba, mengatakan pelaku usaha di sektor kehutanan dapat ikut mendorong keterlibatan masyarakat dalam mencegah kebakaran hutan. Kerja sama semua pihak sangat krusial untuk mencapai komitmen pengurangan emisi melalui keterlibatan masyarakat dalam pencegahan kebakaran hutan, sekaligus pemberdayaan masyarakat desa.

Pendekatan tersebut menjadi fondasi dari program DMPA yang pertama diluncurkan APP-Sinar Mas saat ajang Konferensi PBB Perubahan Iklim (COP21) 2015 di Paris, dimana menargetkan terbentuknya 500 DMPA sampai dengan tahun 2020. DMPA merupakan program terpadu antara perusahaan dengan masyarakat lokal untuk bersama–sama mengembangkan potensi diri dalam memberi nilai tambah sosial ekonomi masyarakat sekitar sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sekitar, salah satunya melalui kegiatan agroforestri. Satu tahun setelah diluncurkan, 58 desa sudah menerima manfaat dari program DMPA dan 22 desa lainnya diharapkan akan menyusul jelang akhir tahun.

Ketika sebuah desa diberi program DMPA, pendapatan desa tersebut diharapkan naik 50-70 persen dalam kurun tiga tahun lewat berbaga kegiatan ekonomi yang terkait erat dengan potensi hutan alam. Dengan demikian, warga desa pun memiliki kepentingan langsung untuk melindungi hutan.

Proyek-proyek DMPA yang sudah berjalan sejauh ini termasuk ternak kambing, panen padi, budidaya sayuran, serta produksi biodiesel di Kalimantan Barat dengan menggunakan tanaman kemiri sunan. Proyek pengembangan biodiesel kemiri sunan ini diharapkan bisa memberi kontribusi pada program pemakaian mandatori biodiesel B15, selain juga menjadi komoditas ekspor.

“Warga desa adalah nadi dari segala upaya konservasi dan restorasi hutan. Inilah yang perlu disadari disaat kita berusaha mewujudkan perjanjian menjadi langkah konkret di ajang COP22. Pengalaman kita dengan DMPA menunjukkan bahwa program ini secara simultan menguntungkan warga desa, hutan dan operasional perusahaan,” ujar Elim. (Antara)

Komentar

komentar