Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Sunday,21 October 2018

PDRB 2016 Riau Tertinggi di Sumatera

Pekanbaru – Gubernur Riau, Arsyad Juliandirachman menyebutkan berdasarkan data BPS, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Riau tahun 2016 tercatat nomor lima terbesar secara nasional dan tertinggi di tingkat Sumatera.

“Artinya pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan terus kendati pada tahun 2015 sedikit mengalami perlambatan,” kata Gubernur di Pekanbaru di sela rangkaian acara resepsi milad ke 107H/104 M, Muhammadiyah Riau bertema “Membangun karakter bangsa yang berkemajuan”.

Menurut Arsyad Juliandirachman, dengan kondisi ekonomi Riau yang tumbuh positif itu maka kegiatan pembangunan Riau akan bertambah terus dari Kementrian terutama sejumlah proyek yang berskala prioritas.

Dengan kondisi yang menguntungkan itu, katanya berharap masyarakat Riau harus memanfaatkannya dengan baik dan jangan sampai menjadi penonton di daerah sendiri.

“Tingginya pertumbuhan ekonomi di daerah ini sekaligus memicu migrasi yang terus meningkat, pada tahun 2016 pertumbuhan penduduk di daerah ini lebih dari 3 persen, mereka berdatangan dari berbagai tempat dan wilayah,” katanya.

Oleh karena itu mencermati potensi tingginya arus migrasi itu, maka Muhammadiyah harus menjadi pelopor dalam meningkatkan kualitas SDM apalagi dalam milad Muhammadiyah pada usianya ke 107 ini harus lebih mengembangkan lagi pendidikan mulai dari TK hingga perguruan tinggi.

Pada kesempatan itu ia juga berharap, Muhamamdiyah harus lebih menjangkau “akar rumput” untuk mengembangkan sayap organisasi jangan hanya melirik ke bagian menengah atas saja, namun juga hingga ke ranting-ranting. “Jika Muhammdiyah dan NU bersatu maka amanlah Riau,” katanya.

Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, Drs H Hajriyanto Y. Thohari mengatakan, Riau pasti bisa menjadi agen pambaharuan melalui kekuatan Muhammadiyah dengan mengedepankan umat yang berkemajuan, artinya maju semangat, maju alam fikir, dan berorientasi ke depan masa lalu harus dilupakan agar menjadi lebih baik secara spiritual dan material.

Muhammadiyah itu kuat, tanpa membedakan ras, suku dan agama terbukti sejumlah Universitas Muhammadiyah di Sorong misalnya dari 88.000 mahasiswanya tercatat 75 persen justru non muslim. Begitu pula di Universitas Muhammadiyah Mourre NTT dengan 2.600 mahasiswanya dan 70 persen non muslim.

“Muhammadiyah makin besar karena tidak memandang suku, hanya mengedepankan gerakan kemanusiaan, Muhammadiyah itu filantropi,” katanya. (Antara)

Komentar

komentar