Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Thursday,20 September 2018
Dok. Delegasi COP-22 dari Indonesia

Suryono, Petani Riau yang Berbagi Kisah di COP-22 Maroko

Dumai – “Saat itu menanam sayur disebut orang-orang sebagai ‘otak terbalik’, mereka berpikir kenapa capek-capek menanam sayur?”

Lelaki berusia 40 tahun dengan tampilan bersahaja itu mengawali kisahnya sebagai seorang petani yang berada di persimpangan. Ungkapan bernada cibiran di awal pembuka cerita ini dilontarkan oleh orang-orang yang melihat lelaki itu memutuskan pindah jalur, dari petani sawit menjadi petani hortikultura.

Lelaki yang bernama Suryono itu menyebut, masyarakat sudah terlanjur menganggap sawit sebagai jalan keluar paling lumrah dan mudah untuk menyambung hidup. Mereka menganggap bercocok tanam sayur hanya buang-buang waktu, tak ada untungnya.

Sawit memang telah menjadi sumber penghasilan mayoritas warga di Dusun Sukajaya, Kampung Pinang Sebatang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Namun dengan kerja keras dan ketekunan, Suryono mampu membalikkan persepsi umum masyarakat kampungnya.

Sekelumit cerita inilah yang disampaikan Suryono, petani asal Riau yang didaulat untuk berbicara di Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim PBB di Marrakesh, Maroko yang dihelat 7-18 November 2016. Mengapa KTT Perubahan Iklim 2016 yang kerap disebut dengan COP-22 itu perlu mengundang Suryono?

Jawabnya ada di kisah inspiratif Suryono dalam berpindah jalur tadi. Transformasi dari petani sawit menjadi petani hortikultura merupakan lompatan yang tidak hanya membuat Suryono menjadi lebih sejahtera, tetapi juga selaras dengan upaya pengurangan dampak perubahan iklim.

Praktik menanam sawit telah terbukti lebih banyak mendatangkan mudarat bagi lingkungan. Mulai dari proses di hulu yaitu pembukaan lahan yang lazim menggunakan teknik bakar, hingga rusaknya kualitas tanah dan pemborosan sumber daya air.

Dengan beralih menjadi petani hortikultura, Suryono telah meninggalkan praktik bertani yang mendegradasi lingkungan menuju praktik bertani ramah lingkungan yang berkelanjutan. Tanaman hortikultura jauh lebih sustainable dibanding sawit, karena para petani bisa menggarap lahan yang sama hingga berkali-kali panen tanpa perlu membuka lahan baru.

Baca Juga:  Berkat Suryono, Banyak Petani Riau Beralih dari Sawit ke Sayuran

Suryono berujar bahwa ia beruntung karena mendapat binaan berupa pelatihan dan pinjaman modal lunak tanpa bunga, sehingga proses transisinya menjadi relatif lebih cepat. Dari sebelumnya menjadi petani sawit sejak tahun 2000, hingga pada tahun 2013 ia telah fokus total kepada tanaman hortikultura saja.

Beberapa jenis sayuran dan buah yang ditanam antara lain kangkung, bayam, cabai, melon, semangka, kacang panjang, timun, jambu, pepaya, dan jagung. Suryono mengatakan ia sengaja untuk tidak fokus kepada satu tanaman saja, karena sifat tanaman hortikultura yang musiman. Dengan begitu, sepanjang tahun ia dapat terus menanam.

Produk sayur unggulannya adalah bayam, sedangkan buah berupa pepaya dan jambu. Sayur bayam menjadi andalan Suryono. Dengan lahan ½ hektar, sayur ini menghasilkan Rp 15 juta per bulan. Bandingkan dengan 1 hektar lahan sawit yang menghasilkan Rp 2-3 juta per bulan saja.

Suryono juga telah berhasil menjadi pelopor pemasok sayuran ke pasar tradisional setempat. Ini bukan perkara mudah, karena sebelumnya pasar dikuasai para tengkulak yang telah lama beroperasi memasok sayuran dari Pekanbaru.

Setelah sekitar satu tahun berdagang sayuran, satu per satu petani lain mengikuti jejaknya. Kini, pasar tradisional tersebut telah ramai oleh pasokan sayuran lokal, tidak lagi bergantung dari luar daerah.

Sukses dengan menanam sayuran, impian Suryono selanjutnya adalah mendirikan taman wisata buah-buahan untuk menarik minat masyarakat terhadap buah, sehingga para petani juga menjadi tertarik untuk menanam buah-buahan.

Suryono juga turut aktif dalam program DMPA yang memang sejalan dengan alur kisahnya. Program ini bertujuan untuk menempatkan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan sebagai subyek aktif untuk mandiri secara ekonomi melalui program agroforestri atau wanatani. Muara program ini adalah pencegahan kebakaran, serta penyelesaian konflik lahan.

Pesan terakhir Suryono ketika berada di Maroko ditujukan kepada para petani Indonesia, khususnya yang bercocok tanam hortikultura.

“Semoga nasib petani hortikultura dapat meningkat lagi, karena dengan ragam tanamannya, praktik bercocok tanam hortiklutura dapat dilakukan sepanjang musim. Dan yang lebih penting, ini juga berkaitan dengan ketersediaan pangan bagi masyarakat,” ucap Suryono.

Harapan terbesar Suryono dengan tampilnya ia di COP-22 ini adalah memberikan motivasi kepada para petani terutama golongan ekonomi ke bawah untuk membangkitkan pertanian. Kuncinya adalah bagaimana petani dapat memperbaiki kualitas dan kuantitas produksinya agar siap dalam menghadapi persaingan dan tantangan. (Tmp)

Komentar

komentar