Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Sunday,22 July 2018
Ilustrasi (IST)

Dumai Peringkat Tiga Terbanyak Kasus HIV/AIDS di Riau

Pekanbaru – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Riau menemukan infeksi dan penularan HIV/AIDS di daerah ini sebanyak 3.958 kasus sejak 2014 hingga Oktober 2016. Khusus Dumai terdapat 213 kasus dan menjadi daerah peringkat tiga terbanyak kasus HIV/AIDS di Riau.

“Ibarat gunung es, kasus ini masih banyak yang berlum terungkap karena mereka yang terinfeksi dan tertulari malu melaporkannya,” kata Helmi Yardi, Pengelola Program KPA Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Riau, di Pekanbaru, Kamis (1/12/2016).

Menurut dia, kasus HIV/AIDS di Riau terjadi lebih akibat adanya hubungan seks bebas berisiko tanpa pengaman, sehingga tertulari dari mereka yang sudah terinfeksi sebelumnya, serta karena pemakaian jarum suntik narkoba secara bergantian.

Ia menyebutkan, berdasarkan jumlah kumulatif menurut kabupaten dan kota pada 2004 hingga 13 September 2016, tertinggi adalah Pekanbaru tercatat sebanyak 1.020 kasus, disusul Bengkalis 329 kasus, Kota Dumai 213, Kabupaten Pelalawan 167, Kabupaten Rokan Hilir 117 kasus.

Berikutnya, Kabupaten Siak 81, Kabupaten Inderagiri Hilir 78 kasus, Kabupaten Kampar 75 kasus, Meranti 23 kasus, dan Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 20 kasus, Kabupaten Rokan Hulu 18, dan Indergiri Hulu 21 kasus.

“Virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh atau sel darah putih/limfosit, sehingga menurunkan kekebalan tubuh dan penderita bisa diserang penyakit lainnya secara komplikasi antara lain TBC,” katanya lagi.

Namun aktivitas makan bersama, minum, berjabat tangan, berenang, berpelukan, berciuman, gigitan nyamuk/serangga atau hidup serumah dengan orang yang terinfeksi HIV tidak akan bisa menularkannya.

Menurut jenis pekerjaan mereka yang terinfeksi HIV dan terkena AIDS itu berasal dari tenaga nonprofesional (karyawan) sebanyak 96 orang untuk kasus HIV, dan AIDS 72 kasus, berikutnya ibu rumah tangga sebanyak 28 kasus HIV dan 23 AIDS.

Selain itu, tenaga profesional medis 1 orang, ABK 1, lainnya 3, tidak diketahui jenis pekerjaan sebanyak 15 orang, wiraswasta sebanyak 18 kasus HIV dan 22 AIDS, tidak bekerja sebanyak 16 kasus HIV dan 14 AIDS.

Selain itu pekerja seks 22 kasus HIV dan 3 AIDS, petani, peternak, nelayan 4 (HIV) dan 8 (AIDS), buruh kasar 2 HIV dan AIDS 4, tenaga profesional nonmedis 4 HIV, TNI Polri/PP/sekuriti 4 HIV dan AIDS 4 kasus, pelajar/mahasiswa sebanyak 7 HIV dan 4 AIDS, narapidana 3 HIV, PNS 5 HIV, dan 5 AIDS, sopir/ojek, tukang parkir sebanyak 7 kasus HIV dan 2 AIDS.

“Karena itu, program pencegahan yang komprehensif, terpadu, perlu dilakukan dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, seluruh kemitraan public private community dan media partnership. Program yang memberdayakan populasi kunci, secara khusus terhadap pekerja seks perempuan, laki-laki, waria, serta pasangan seksualnya masing-masing,” katanya lagi.

KPA setempat juga terus menggencarkan gerakan pendistribusian penggunaan kondom, sebab pada hakikatnya kondom berguna untuk mencegah pertukaran cairan tubuh.

Menurutnya, kondom mencegah penularan infeksi menular seksual (IMS) yang dapat menyebabkan kemandulan dan meningkatkan kemungkinan terinfeksi HIV.

Ia menjelaskan, kondom bersifat ganda, selain mengandung pelicin sehingga membantu mencegah atau mengurangi lecet saat berhubungan intim, juga dapat mencegah kehamilan, serta variasi dalam hubungan seksual. Artinya hubungan seksual menjadi lebih lama.

“Kondom bisa mencegah penyakit infeksi menular seksual yang dapat menyebabkan kemandulan dan mengurangi kemungkinan terinfeksi HIV,” katanya lagi. (Antara)

Komentar

komentar