Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Monday,23 July 2018

Indonesia Tidak Perlu Lagi Impor BBM di 2023

Jakarta – PT Pertamina (Persero) menegaskan bahwa Indonesia akan terbebas dari ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) pada 2023 berkat modifikasi kilang Cilacap, Balikpapan, Balongan, dan Dumai, serta pembangunan kilang baru di Tuban dan Bontang.

“2023 kita tidak perlu lagi impor BBM, termasuk gasoline. Solar malah lebih,” kata Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Rachmad Hardadi, dalam Pertamina Energy Forum 2016 di Ritz Carlton PP, Jakarta, Rabu (14/12/2016).

Perhitungan ini dibuat dengan asumsi konsumsi bensin (gasoline) di dalam negeri tumbuh 8% per tahun. Sedangkan kebutuhan solar tumbuh 5% per tahun. “Permintaan gasoline tumbuh 8 persen, diesel 5 persen per tahun dari 2012 sampai 2025,” ucapnya.

Dia menjelaskan, proses menuju swasembada BBM ini dimulai dengan proyek RFCC Cilacap dan pengoperasian kilang TPPI pada 2015 lalu, sehingga kapasitas kilang minyak Indonesia saat ini 1 juta barel per hari (bph).
“Seluruh infrastruktur saat ini punya kemampuan mengolah 1 juta barel crude (minyak mentah) per hari, kami bisa operasikan 900.000 barel crude per hari,” ucap Rachmad.

Kemudian, proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan tahap pertama akan ground breaking pada 2017 dan selesai 2019. RDMP Balikpapan akan menambah kapasitas sebesar 100.000 bph, sehingga total kapasitas kilang di Indonesia menjadi 1,1 juta bph.

Lalu, proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban berkapasitas 300.000 bph yang dikerjakan Pertamina bersama raksasa migas asal Rusia, Rosneft, dimulai pada 2018 akan selesai di 2022 sehingga total kapasitas semua kilang menjadi 1,4 juta bph.

Setelah itu, ditambah lagi dengan RDMP Refinery Unit (RU) Cilacap yang dikerjakan Pertamina bersama Saudi Aramco, total kapasitas kilang meningkat lagi menjadi 1,42 juta bph pada tahun 2022.

Kapasitas produksi akan bertambah lagi dengan selesainya RDMP Dumai dan Balongan, lalu GRR Bontang yang berkapasitas 300.000 bph, maka total kapasitas kilang menjadi 2 juta bph pada 2023. “Akhir 2023 (kapasitas kilang) mencapai 2 juta bph, konsumsi masyarakat juga 2 juta bph,” papar Rachmad.

Sementara itu berbeda dengan Pertamina, menurut Kementerian ESDM sekalipun 4 proyek RDMP dan 2 proyek GRR berhasil diselesaikan Pertamina pada 2023, kebutuhan bensin (gasoline) di dalam negeri tetap belum terpenuhi. Hanya minyak diesel (solar) saja yang sudah tidak perlu impor mulai 2023.

Berdasarkan perhitungan Kementerian ESDM, produksi gasoline Indonesia pada 2024 saat seluruh proyek kilang Pertamina selesai memang nyaris mengimbangi konsumsi nasional, yaitu 763.000 barel per hari (bph), sedangkan konsumsi saat itu 776.000 bph. Tapi konsumsi gasoline tumbuh terus sehingga pada 2025 dan seterusnya Indonesia harus impor BBM lebih besar lagi.

Pada 2025 saja, kebutuhan gasoline di dalam negeri sudah 810.000 bph, lalu naik menjadi 844.000 bph di 2026, dan terus melonjak hingga 994.000 bph pada 2030. Sementara produksi tetap 763.000 bph.

Yang sudah terpenuhi baru minyak diesel alias solar saja. Pada 2023, produksi solar sudah 608.000 bph, seimbang dengan konsumsi nasional. Bahkan pada 2024, produksi solar mencapai 916.000 bph, jauh di atas kebutuhan dalam negeri yang sebesar 620.000 bph. (dtc)

Komentar

komentar