Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Sunday,21 October 2018

Ini yang Terjadi Ketika Anak Diajari ‘Berbohong Demi Kebaikan’

Dumai – Ketika ada seseorang yang tidak disukai menelepon atau mendatangi rumah, terkadang orang tua tidak sengaja melibatkan anaknya untuk berbohong. Misalnya seperti meminta anaknya berkata ‘mama lagi nggak ada’.

Terkait hal ini, psikolog anak dan keluarga dari Tiga Generasi, Anna Surti Ariani SPsi MSi menuturkan, meminta anak untuk mengatakan ‘mama lagi nggak ada’ ketika ada orang yang mencari sang mama merupakan hal yang keliru. Karena, itu tetaplah kebohongan yang secara tidak langsung akan memengaruhi anak.

“Mau black lies atau white lies itu tetap bohong. Padahal kita bisa aja bilang ‘mama nggak ingin ketemu orang itu karena orang itu akan terus-terusan menawarkan barang padahal barang itu kita nggak butuh’ jadi gitu aja bilangnya, misalkan,” tutur wanita yang akrab disapa Nina ini.

Nina melanjutkan, mengatakan kejujuran seperti ‘mama nggak mau ketemu’ jauh lebih baik. Tapi, lebih tepat lagi jika orang tua menyelesaikan masalah tersebut tanpa melibatkan anak, apalagi secara tak langsung mengajarinya berbohong.

Sebab, dikatakan Nina anak-anak belum bisa membedakan berbohong dengan berbohong demi kebaikan. Ia memberi contoh ketika anak diminta mengatakan ‘mama lagi nggak ada di rumah’ maka anak yang belum paham akan mengatakan ‘mama bilang dia lagi nggak ada di rumah’.

“Jadi jangan ngajak-ngajak anak untuk berbohong. Sehingga, langsung tunjukkan saja dengan kita ketemu atau jawab telepon orang tersebut. Karena apapun yang kita lakukan itu pendidikan untuk anak,” sambung Nina dalam perbincangan dengan detikHealth baru-baru ini.

Saat anak sering tak sengaja diajari ‘berbohong demi kebaikan’, dampak yang bisa terjadi di antaranya anak nantinya tidak terlalu menghargai kejujuran. Kemudian, toleransinya terhadap kebohongan akan semakin besar.

“Jadi anak akan berpikir seperti ‘ya udahlah bohong-bohong dikit nggak apa’ dan hal tersebut bisa memicu anak melakukan kebohongan lagi,” pungkas ibu dua anak ini.

Hal senada juga dikatakan psikolog anak dan remaja dari RaQQi – Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi.

“Sebetulnya bohong tetap bohong. Ketika anak berbohong, dia kan menyembunyikan fakta atau tidak mengungkapkan fakta, atau dia mencari fakta baru yang tidak sesuai dengan kejadian. Itu kan sesuatu yang perlu diklarifikasi,” tegasnya.

Ratih kurang setuju dengan adanya anggapan bahwa anak bisa diajak berbohong, meski bentuk kebohongan itu adalah ‘white lies‘. Sebab, nantinya anak bisa bingung.

Jika sebelumnya anak selalu diwanti-wanti untuk jujur, tapi suatu hari ia diminta berbohong, maka anak akan bingung karena sebelumnya ia dilarang bohong tapi mengapa kemudian ia diminta melakukan sesuatu yang dilarang tersebut.

Atau, bisa juga anak langsung mengambil nilai bahwa memang berbohong boleh dia lakukan. Sebab, kata Ratih pada dasarnya children see, children do atau dengan kata lain, anak akan melakukan apa yang dia lihat.

Contohnya saja, ketika ibu membeli tas baru bersama sang anak tanpa sepengetahuan si ayah. Lalu, si ibu meminta sang anak untuk mengatakan pada ayahnya bahwa tas ibu merupakan pemberian teman, bukan dibeli.

“Kalau begitu artinya ada negosiasi soal bohong dengan anak. Akhirnya anak mengambil suatu nilai bahwa dia boleh melakukan ini. Akan lebih baik kalau langsung saja bilang ini dikasih, jadi nggak perlu mengungkapkan fakta,” kata pemilik akun twitter @ratihyepe ini.

Atau, bisa juga jelaskan kepada anak mengapa sang ibu harus menyembunyikan fakta bahwa memang tas itu dibeli. Meski begitu, Ratih menegaskan sebisa mungkin ajari anak untuk tidak berbohong, salah satunya dengan memberi contoh pada mereka. (dtc)

Komentar

komentar