Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Tuesday,20 November 2018

Netizen Kurang Kritis, Medsos Jadi Sarang Hoax

Jakarta – Peredaran hoax atau kabar bohong bisa semakin parah jika dibiarkan. Netizen harus ekstra hati-hati sebelum mengkonsumsi informasi dan menyebarkannya kembali.

“Sejak media sosial booming, banyak netizen menjadikannya sebagai rujukan informasi. Dalam arti, mereka mudah percaya begitu saja dengan informasi yang beredar di media sosial. Celakanya, ada banyak pihak yang memanfaatkan ini untuk mencari keuntungan,” kata pegiat Internet Sehat Dewi Widya Ningrum, Senin (19/12/2016).

Dikatakannya, oknum penyebar hoax ini membagi informasi dari situs yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Mirisnya, netizen sangat mudah terpengaruh dengan informasi seperti itu, kemudian malah membaginya lagi sehingga membantu memperluas penyebarannya.

Dalam pandangan pengamat media sosial Nukman Luthfie, hoax adalah representasi dari kehidupan sehari-hari dan bukan sesuatu yang baru. Keberadaan media sosial, membantu hoax menyebar lebih masif.

“Kenapa? Karena yang menyebarkan pada umumnya gak tahu kalau itu hoax. Ada juga yang tahu, tapi menyebarkannya dengan tujuan tertentu, itu juga ada,” sebut Nukman secara terpisah.

Nukman mencatat setidaknya ada tiga hal yang membuat hoax ramai berseliweran di media sosial. Pertama, rata-rata orang tidak bisa membedakan mana berita benar dan mana yang bohong.

“Riset terbaru di AS, 80% pelajar AS tidak bisa bedakan mana berita benar, advertorial, dan hoax. Indonesia kurang lebih seperti itu, dengan tingkat literasi internet kita yang di bawah AS,” Nukman memberikan contoh.

Kedua, di media sosial, orang cenderung tidak membaca isi sebuah artikel. Mereka hanya membaca judul, tapi sudah berani untuk membaginya ke banyak orang. Disebutkan Nukman, era media sosial semacam ini menimbulkan hal baru yakni share bait, yakni jebakan menarik di judul sebuah konten agar orang membaginya.

Ketiga, menurut Nukman, kalaupun mereka membaca isi artikelnya, seringkali dengan cepat menyimpulkan. Hal ini lantaran cara membaca di media online dengan di media cetak berbeda. Kecenderungan orang di media online akan membaca dengan cepat dan sekilas untuk segera mendapat kesimpulan.

“Dengan tiga hal itu, ditambah dengan situasi panas seperti Pilkada, perang opini, penyebaran hoax meningkat. Muncul juga situs abal-abal yang memproduksi berita-berita yang gak tahu kebenarannya,” papar Nukman.

Baik Nukman maupun Dewi sama-sama menyarankan agar netizen kritis terhadap informasi yang berseliweran di media sosial maupun pesan instan. Pengguna sebaiknya mencari tahu informasi pembanding terkait sebuah isu dari berbagai media yang kredibel.

“Sebelum menyebarkan berita, tanyakan pada diri sendiri apakah info tersebut benar dan bermanfaat jika disebar, apakah info itu justru akan memecah belah atau menyudutkan orang atau kaum lain. Gunakan logika,” saran Dewi.

Sementara Nukman percaya, selalu ada orang-orang ‘waras’ di antara campur aduk dan banjir informasi yang makin deras mengalir. Yang jelas menurutnya, penting untuk selalu mengecek ulang kebenaran sebuah berita.

“Paling tidak, selalu kritis. Jangan hanya membaca judul, cek dan ricek kebenarannya, ikuti akun-akun terpercaya dan saring informasi dengan memanfaatkan fitur yang ada di media sosial,” tutupnya. (dtc)

Komentar

komentar