Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Friday,20 April 2018

Pungli di Sekitar Kita

Masalah pungli akhir-akhir ini diperioritaskan pemerintah hingga dibentuknya Tim Sapu Bersih (Saber) Pungli dan diketuai oleh Menkopolhukam Jend.(purn) Wiranto dengan Ketua pelaksana Irwasum Mabes Polri Komjen Dwi Priyatno. Dasar pembentukan Tim Saber Pungli ialah Peraturan Presiden (Perpres) nomor 87 tahun 2016 yang juga sebagai payung hukum, dan operasional teknis adalah masalah yang dapat dikatakan telah menjadi kebiasaan sehari-hari dalam hal pelayanan publik.

Kenyataannya sulit untuk lepas dari jerat pungli ini. Di satu sisi masyarakat membutuhkan pelayanan yang prima, tetapi karena reformasi birokrasi yang belum optimal maka “ngasih uang lebih” menjadi cara efektif untuk menyelesaikan urusan.

Pungli dikatakan sudah terlalu lama dibiarkan terjadi dan mungkin sudah menjadi budaya dalam pelayanan masyarakat. Pungli zaman dahulu disebut upeti yaitu biaya yang harus dibayarkan kepada penguasa, sekarang disebut pajak dan retribusi. Pajak dan retribusi sah karena ada aturan hukumnya, sedangkan yang melanggar hukum adalah pungli dan korupsi.

Sering kali kita sendiri yang membuat budaya pungli itu. Seperti contoh, ”kita sudah ditolong, masa gak kita beri hadiah”, atau “ini pak untuk uang minumnya” atau kalimat-kalimat lain yang sebenarnya ada di kehidupan sehari-hari yang akhirnya menjadi kebiasaan. Pembuatan KTP misalnya, biayanya adalah gratis, tetapi kita tidak mau repot mengurusnya karena harus melengkapi berkas-berkas atau kita tidak sempat datang ke kantor kelurahan atau kecamatan sehingga kita meminta bantuan melalui “orang dalam” supaya lebih cepat selesainya.

Itu baru satu contoh pelayanan publik terhadap satu orang, bayangkan itu dilakukan satu Indonesia. Bagaimana kalau mengurus KK? SIM? Surat Izin Usaha? Sertifikat tanah? dan lain sebagainya. Kita pasti pernah mengalaminya.

Yang namanya pungli bukan hanya persoalan besar kecilnya uang, tetapi pihak-pihak yang harusnya menjadi pelayanan masyarakat justru tidak mau bekerja atau malas-malasan dalam melayani masyarakat kalau tidak ada uang tambahan. Keadaan ini yang menjadi perhatian dari pemerintah sehingga dibentuklah Tim Saber Pungli.

Semoga tim ini bisa mengurangi bahkan menghilangkan kebiasaan pungli di sekitar kita. Sehingga kinerja pemerintah dalam melayani masyarakat menjadi lebih berkualitas dan masyarakat dalam mengurus sesuatu menjadi lebih mudah. Kita harus tetap optimis demi Indonesia menuju kearah yang lebih baik.

*) Raymond Fransiscus Tondang, SH,MKn.

Dosen di Universitas Sutomo, Medan.

Komentar

komentar