Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Monday,20 August 2018
Foto: Istimewa

Herawati Sudoyo: Secara Genetik, Asal Usul Orang Indonesia Itu Beragam

Jakarta – Dari mana asal usul orang Indonesia? Pertanyaan sederhana itu memantik Prof Herawati Sudoyo, PhD menelisik asal-usul orang Indonesia secara genetik.

Tokoh dr. Herawati Sudoyo, Ph. D. adalah seorang dokter, peneliti, dan penganalisa DNA forensik dari Lembaga Biologi Molekul Eijikman. Ia menerima Anugerah Sekar Bangsa 2013, Habibie Award pada tahun 2008 sebagai peletak dasar pemeriksaan DNA forensik untuk identifikasi pelaku bom bunuh diri, Wing Kehormatan Kedokteran Kepolisian pada tahun 2007 dan Australian Alumni Award of Scientific and Research Innovation pada tahun 2008.

Dokter kelahiran Pare, 2 November 1951 ini sejak kecil bercita-cita sebagai arsitek. Sayangnya ia terhambat masalah administrasi ketika akan mendaftar ke Institut Teknologi Bandung dan akhirnya mendaftar ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Akan tetapi ketertarikannya pada bidang interior masih tampak dari caranya menata ruang kerjanya di Lembaga Biologi Molekul Eijkman.

Hera, demikian nama kecilnya, menata ruang kantornya dengan gaya kolonial klasik yang memberikan kesan hangat dan nyaman. Ia tak pernah membayangkan jadi peneliti sebelumnya. Ayahnya adalah seorang tentara dan ibunya adalah mahasiswi jurusan hukum ketika menikah dengan ayahnya. Ayahnya adalah pria yang disiplin. Beliau juga selalu berusaha memotivasi Hera untuk belajar dengan memberikan hadiah bila ia meraih prestasi.
Selain sebagai dokter dan peneliti yang berprestasi Hera adalah seorang ibu yang sangat perhatian pada anak-anaknya. Hal ini tampak dari keputusannya untuk memboyong kedua anaknya yang berusia 9 dan 6 tahun ketika melanjutkan studi doktoralnya di Australia. Sang suami tetap tinggal di Indonesia karena saat itu ia juga tengah menyelesaikan studinya. Saat itu setiap pagi, seusai mengantar anak-anak ke sekolah ia berangkat ke laboratorium. Sore harinya ia menjemput anak-anaknya, memasak, kemudian kembali ke laboratorium. Kerja kerasnya tidak sia-sia. Ia akhirnya berhasil meraih S3-nya dari Departemen Biochemistry , Monash University.

Ahli Di Balik Pelacakan Forensik “Bom Kedubes Australia 2004”

Ketika terjadi musibah ledakan bom bunuh diri di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada tanggal 9 September 2004, Hera bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk mengidentifikasi pelaku bom bunuh diri tersebut. Hera bersama Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri berhasil mengumpulkan sampel DNA pelaku bom bunuh diri dan mencocokkannya dengan DNA keluarga tersangka. Dalam waktu kurang dari 2 minggu, mereka berhasil mengidentifikasi pelakunya. Karena keberhasilannya ini ia memperoleh Habibie Award pada tahun 2008 sebagai peletak dasar pemeriksaan DNA forensik untuk identifikasi pelaku bom bunuh diri.

Peristiwa inilah yang menjadi awal diakuinya “Teknik Analisis DNA Metode Hera”. Saat itu pihak Polri ditantang untuk segera mengidentifikasi pelaku dan mengungkap kelompok di baliknya. Kejadian itu menewaskan 10 korban dan mencederai lebih dari 180 orang. Mobil boks yang mengangkut bom hancur total dan tak ada bagian tubuh yang memungkinkan untuk diidentifikasi dengan metode konvensional, seperti sidik jari, profil gigi, apalagi pengenalan wajah. Persoalan berikutnya, bagaimana menentukan mana pelaku dan mana korban?

Solusi persoalan pertama adalah identifikasi DNA. Singkatan dari deoxyribonucleic acid, DNA adalah rantai informasi genetik yang diturunkan. DNA inti mengandung informasi dari orangtua: ayah dan ibu. Persoalan kedua diatasi dengan mengembangkan strategi pengumpulan dan pemeriksaan serpihan tubuh berbasis prediksi trajektori ledakan bom dan posisi pelaku. Sebagai orang yang paling dekat dengan bom, serpihan pelaku akan terlontar lebih jauh dibanding serpihan korban.

Teori yang dikembangkan tim Hera bersama Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri ternyata betul. Jaringan tubuh yang berasal dari tempat-tempat terjauh memiliki profil DNA yang sama. Hasil ini kemudian dibandingkan dengan profil DNA keluarga dekat yang dicurigai. Kurang dari dua minggu, tim gabungan Eijkman-Polri berhasil mengidentifikasi pelakunya. Disebut Disaster Perpetrator Identification (DPI), teknik ini melengkapi Disaster Victim Identification (DVI) yang biasa digunakan untuk identifikasi korban bencana massal.

Penemuan Orang Indonesia Sebagai Nenek Moyang Orang Madagaskar

Penelitian mengenai genetika manusia Indonesia dengan fokus keragaman genetik terkait dengan penyebaran penyakit memang salah satu kegiatan Lembaga Eijkman. Demikianlah, suatu penelitian dasar telah menunjukkan fungsinya sebagai penunjang kepentingan terapan. Database genom populasi tidak sekadar menguak kejahatan. Variasi DNA bisa menunjukkan struktur kekerabatan populasi, pola migrasi, hingga penyakitnya.

Penelitian DNA Madagascar dan Indonesia Dr. Herawati Sudoyo beserta dengan Murray P. Cox, Michael G. Nelson (Selandia Baru), Meryanne K. Tumonggor (Arizona), Francois-X. Ricaut (Prancis) menyimpulkan bahwa nenek moyang penduduk Madagaskar adalah orang Indonesia. Studi yang dilakukan sejak tahun 2005 tersebut, dilakukan dengan melakukan pencocokan DNA dari 2.745 sampel penduduk Indonesia yang berasal dari 12 pulau yaitu Sumatera, Nias, Mentawai, Jawa, Bali, Sulawesi, Sumba, Flores, Lembata, Alor, Pantar dan Timor, dicocokkan dengan 266 sampel penduduk Madagaskar. Sampel DNA penduduk Madagaskar berasal dari tiga kelompok besar etnik yang dibedakan berdasarkan budaya dan tempat tinggal, yaitu: Mikea (pemburu), Vezo (nelayan), dan Merina (dataran tinggi). Marka genetik yang digunakan adalah DNA mitokondria, kromosom Y. “Kami mengambil sampel darah dari penduduk Indonesia dan Madagaskar.”

Hasil penelitian tersebut menunjukkan, dari 2.745 sampel DNA Indonesia, 45 orang membawa motif Malagasi. Di mana motif tersebut terdapat pada 58 sampel dari 226 total sampel penduduk Madagaskar. Hasil uji DNA ini membuktikan adanya hubungan darah antara penduduk Madagaskar dan Indonesia. Hasil pemetaan genetik di Indonesia terdahulu memperlihatkan gambaran sejajar antara penyebaran bahasa dengan penyebaran variasi genetik.

Herawati Sudoyo menjabat Wakil Direktur Lembaga Biologi Molekul Eijkman. Lembaga ini secara konsisten menghasilkan temuan mutakhir, riset kelas dunia, tetapi Sudoyo sadar di Indonesia output ilmiahnya cenderung lebih kecil dibandingkan di negara-negara lain di Asia Tenggara. Kiranya cukup lama Sudoyo bekerja di Institut Eijkman. Sedari awal 1990-an. Setelah gelar medis di Universitas Indonesia, Sudoyo melanjutkan studi ke Monash University di Melbourne, Australia, belajar keilmuan Mitokondria. B.J. Habibie menggambarkan sosok Sudoyo sebagai “seorang individu, revolusioner berpikiran maju”. Akhirnya Habibie meminta Marzuki, saat ini menjadi Direktur Eijkman, untuk mendirikan lembaga biologi di Jakarta. Marzuki segera meminta Sudoyo untuk bergabung dengannya, dan mereka pun bertugas menggawangi reputasi tinggi lembaga tersebut.

Secara Genetik, Asal Usul Orang Indonesia Itu Beragam

Sudah 1,5 dekade terakhir, Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman meneliti hal itu. Secara genetik, asal usul orang Indonesia itu beragam.

Herawati yang juga Wakil Kepala LBM Eijkman bidang Riset Fundamental memaparkan sekilas tentang riset ini. Dalam dalam seminar bertajuk “Collaborative Research in Population Study: A Story of Human Dispersal in Indonesia” di Ruang Auditorium Sitoplasma Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jl Diponegoro No. 69, Jakarta Pusat, Senin (14/11/2016), Herawati memaparkan risetnya dalam presentasi berjudul “The Peopling of Indonesian Archipelago: Unity in Diversity”.

Dalam presentasi itu, Herawati memaparkan tujuan risetnya yang bisa menentukan sejarah pendudukan 13 pulau besar di Indonesia meliputi waktu kedatangan, pola migrasi hingga relasi kawin mawin dengan menganalisa data genetik DNA serta membandingkannya dengan data non-genetik seperti linguistik, etnografi, arkeologi dan sejarah.

Sudah ada nyaris 3 ribuan orang Indonesia dari 13 pulau dan 80 komunitas menjadi sampel analisa DNA. Hasil risetnya, sudah dimuat di jurnal ilmiah Nature.

Herawati dalam presentasinya menunjukkan secara riset genetik, termasuk kolaborasi dengan peneliti di dunia, asal-usul manusia di Bumi diketahui berasal dari Afrika, yang menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, melalui daratan China hingga menuju Australia.

“Pertanyaannya, siapa sih yang bilang ‘Oh oke, saya ini orang Indonesia asli lo’. Siapa? Yang mana yang namanya orang Indonesia asli? Itu penelitian sudah di 80 komunitas di Indonesia dengan pendekatan 3 tadi, kelihatan sekali pada dasarnya kita itu latar belakang genetiknya itu campuran,” kata Herawati.

Dalam risetnya, Herawati menemukan bahwa orang di timur Indonesia lebih dekat dengan orang-orang di kawasan Samudera Pasifik, sedangkan di barat Indonesia, lebih dekat ke kawasan Asia Tenggara dan orang Nias dan Mentawai lebih dekat dengan suku asli Taiwan.

“Campuran itu sifatnya gradien. Jadi dia tidak rata semua di seluruh negeri ini. Tapi dari barat ke timur ada penurunan, jadi paling tinggi itu Austroasiatik, itu asalnya dari China daratan, dia turun pada waktu masih ada Paparan Sunda, jadi Sumatera, Jawa, Kalimantan dengan Semenanjung Malaya masih jadi satu. Orang-orang itu turun masuk ke Nusantara, membawa genetiknya, kawin mengawin, dengan sendirinya kita memiliki (genetikanya) kan,” imbuhnya.

Berikut wawancara dengan Prof Herawati Sudoyo dalam forum seminar dan wawancara di sela-sela seminar pada Senin (14/11/2016) di LBM Eijkman, sebagaimana dikutip detikcom:

Mengapa Ibu tertarik meneliti asal usul orang Indonesia secara genetika?

Saya mengambil PhD dan saya bekerja dengan salah satu marka populasi yakni DNA mitokondria, tentu lebih ke arah kedokteran. Tujuannya untuk mempelajari struktur populasi di Indonesia. Dan saat itu tidak ada riset tentang populasi di Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika itu secara konsep tentu bisa dikeluarkan karena riset ini terkait dengan etnisitas di Indonesia.

Secara kedokteran, riset ini bisa mempelajari penyakit darah seperti thalassemia. Misal seorang penderita thalassemia setelah periksa ke luar negeri, diagnosanya negatif. Ternyata penyakit ini merupakan kelainan pada DNA dan beberapa terkait dengan etnis. Berkait dengan etnis tadi, diagnosa tidak perlu berputar-putar melainkan spesifik. Sekarang pasien thalassemia tidak perlu diperiksa jauh-jauh dan banyak-banyak. Kita tinggal tanya “Asalmu dari mana?”. Misal orangtuanya keturunan Bugis dan Minang, bisa dilakukan tes spesifik yang berkaitan dengan gen Bugis dan Minang.

Bisa diceritakan presentasi riset Ibu berjudul “The Peopling of Indonesian Archipelago: Unity in Diversity” tentang apa?

Sebenarnya saya ambil topik Peopling of Indonesia Archipelago ini bahwa kita mempelajari manusia-manusia semuanya di Indonesia dengan penekanan pada unity in diversity, bahwa kita itu beragam.

Pada prinsipnya bahwa secara genetik dari berbagai pendekatan yang sudah dilakukan, memang kita itu memiliki latar belakang yang bermacam-macam di satu individu.

Jadi di situ tadi saya mengemukakan apa sih yang mau dicapai dari studi seperti ini. Studi ini akan melihat bagaimana struktur dalam populasi.

Struktur populasi itu apakah memang benar, misalnya di satu daerah, misalnya di Jawa saja, itu sama nggak sih dengan di Sumatera, sama nggak sih dengan di Kalimantan? Lebih kecil lagi misalnya, di desa ini sama nggak dengan di desa lainnya?

Jadi kami nggak hanya lihat, dari satu gambaran besar luas, misalnya orang Jawa di Jakarta. Kita benar-benar melihat bagaimana keadaan mereka di tempatnya, kalau bisa. Jadi originnya.

Dari riset tersebut apa yang bisa kita lihat?

Kita menggunakan berbagai macam marka populasi. Diturunkan dari ibu itu namanya DNA mitokondria, diturunkan dari ayah itu namanya kromosom Y. Tapi sekarang ada yang diturunkan dari keduanya, kalau diturunkan dari ayah dan ibu itu autosomal DNA namanya, itu akan bisa melihat campuran. Karena bapak kita itu asalnya dari 2, ibu juga, demikian seterusnya.
Herawati Sudoyo: Secara Genetik, Asal Usul Orang Indonesia Itu BeragamFoto: Dok. Istimewa

Pertanyaannya, siapa sih yang bilang ‘Oh oke, saya ini orang Indonesia asli lo’. Siapa? Yang mana yang namanya orang Indonesia asli? Itu penelitian sudah di 80 komunitas di Indonesia dengan pendekatan 3 tadi, kelihatan sekali pada dasarnya kita itu latar belakang genetiknya itu campuran.

Campuran itu sifatnya gradien. Jadi dia tidak rata semua di seluruh negeri ini. Tapi dari barat ke timur ada penurunan, jadi paling tinggi itu Austroasiatik, itu asalnya dari China daratan, dia turun pada waktu masih ada Paparan Sunda, jadi Sumatera, Jawa, Kalimantan dengan Semenanjung Malaya masih jadi satu. Orang-orang itu turun masuk ke Nusantara, membawa genetiknya, kawin mengawin, dengan sendirinya kita memiliki kan.

Nah tapi kemudian sebelum mereka masuk itu kan sudah ada, satu kelompokan pertama yang keluar dari Afrika. Dan itu Afrika melalui pantai selatan India dan sebagainya masuk Indonesia, ke Paparan Sunda lewat ke Nusa Tenggara masuk Paparan Sahul, kemudian ke Australia. Nah di situ semua itu masih ada. Tapi, peninggalan dari Papuan tadi lebih banyak di sebelah timur, itu kelihatan campuran-campuran tadi.

Apa sih gunanya pemetaan genetika itu?

Saya sudah menerangkan bahwa latar belakang genetik bisa kita gunakan untuk menangani penyakit, untuk melakukan riset medik. Contohnya penyakit thalassemia, itu yang paling bagus contohnya.

Orang di Indonesia Barat dan Timur berbeda campuran genetiknya?

Iya, ada gradiennya. Yang barat lebih ke daratan China dan yang timur lebih ke Afrika.

Dari dataran China dari mana?

Austroasiatik, itu dari China Selatan

Betul yang dibilang selama ini dari daerah Yunan, China?

Iya, dari sana.

Apakah perbedaan genetika orang di Indonesia barat dan timur ini dipisahkan garis Wallace?

Garis Wallace itu adalah garis di mana dia tidak bisa menyatu ya. Itu adalah tempat pengembaraan, mereka masuk dalam kelompok sendiri.

Penelitian akan dilanjutkan ke mana Bu?

Kalau dilihat dari petanya, ada daerah-daerah di mana masih kosong. Kita sudah lakukan tadi ada hubungan dengan Maanyan dan Malagasi-Madagaskar untuk dilihat secara keseluruhan dengan Austronesia.

Kalimantan sendiri kita sebenarnya banyak sekali di situ, suku-sukunya. Itu adalah sesuatu yang akan kita kerjakan nanti, tahun depan. Yang namanya Dayak itu kan bukan hanya satu, banyak sekali.

Ini menarik, yang hipotesa nenek moyang orang Madagaskar sempat diduga berasal dari Suku Bajo, Bugis dan Dayak Maanyan, namun ternyata konfirmasi riset genetik menunjukkan itu identik dengan Suku Banjar?

Oh ya betul, Banjar. Karena yang Maanyan itu sama sekali tidak ada kesamaan genetiknya. Tapi memang bahasanya ada, bisa aja, kan sungainya dulu besar sekali di situ kaya laut. Jadi orang Maanyan turun dan bercampur dengan orang Banjar, bahasa itulah yang dibawa. Bukan orang Maanyan yang kemudian bermigrasi, orang Banjar yang kemudian bermigrasi. Dan ini sudah terkonfirmasi, dari genetikanya

Riset lanjutannya dicari kemana lagi?

Sekarang pertanyaannya, apakah mereka sekaligus? Berlayarnya sekaligus? Perpindahannya di mana? Itu kan yang dicari. Berhentinya di mana?
Itu yang perku dibuktikan, ada nggak?

Padahal suku Banjar kan bukan petualang laut seperti Suku Bajo kan?

Nggak ya, nggak sea nomad. Tapui dari bahasanya Malagasi yang 5% itu yang campur-campuran nggak karuan itu ada Malay, ada Jawa Kuno, ada macam-macam di situ, bisa saja itu bahasa dibawa, bahasa pinjaman atau orang-orangnya di sana.

Jadi risetnya akan mempelajari migrasinya ke Madagaskar?

Iya

Riset genetika di Indonesia ini bagaimana kelanjutannya?

Papua masih kosong. Di Papua, dataran tinggi dan pantai berbeda. Yang pantai bercampur dengan orang-orang Austronesia yang turun itu dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Polinesia. (dtc)

Komentar

komentar