Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Monday,22 October 2018

Pertamina Cari Ribuan Manajer dalam 5 Tahun

Yogyakarta – PT Pertamina (Persero) menghadapi tantangan karena 30% dari pekerjanya di level menengah akan memasuki usia pensiun dalam lima tahun mendatang. Di sisi lain, hanya sekitar 20% dari pekerja level di bawahnya yang dapat mengisi posisi strategis, yang ditinggalkan dalam periode tersebut.

Wakil Direktur Utama Pertamina, Ahmad Bambang, mengungkapkan hal ini adalah masalah serius. Sebab, jumlah pekerja level menengah seperti manajer yang akan pensiun dalam waktu dekat ini jumlahnya sekitar 4.000 orang.

“Manajer-manajer yang sekarang ada banyak yang sudah mendekati pensiun. Walaupun sekarang sudah dikombinasi, yang muda angkatan 2000-an juga banyak hasil percepatan. Apalagi VP (Vice President), banyak yang sudah mau pensiun. Mungkin 4.000-an,” kata Bambang saat ditemui di Hyatt Regency Hotel, Yogyakarta, Rabu (18/1/2017).

Padahal, proyek-proyek Pertamina di hulu hingga hilir semakin banyak. Ketika dibutuhkan banyak sumber daya manusia (SDM) untuk menjalankan proyek-proyek itu ternyata Pertamina justru harus kehilangan banyak SDM karena pensiun.

Mau tak mau Pertamina harus membuka lowongan untuk merekrut pekerja di level menengah. Selain itu, Pertamina juga melakukan percepatan terhadap pekerja di level bawah agar dapat segera mengisi posisi di level menengah.

“Sementara Pertamina sekarang banyak proyek. Ada proyek RDMP, kilang baru, ekspansi upstream ke luar negeri, ini harus diisi. Enggak mungkin dong leader di tengah ini kita ngambil dari fresh graduate. Pasti akan banyak perekrutan dari luar di samping ada percepatan,” paparnya.

Langkah lain yang dilakukan Pertamina adalah memperpanjang masa kerja untuk manajer-manajer yang sebenarnya sudah memasuki usia pensiun.

“Kita sebetulnya sudah menambah masa kerja hingga 2 tahun, banyak yang usia pensiunnya jadi 58 tahun. Yang kedua, dari dalam bisa percepatan tapi enggak banyak. Ketiga, tentu kita buka dari luar,” ucap Bambang.

Defisit manajer ini masih bisa meningkat lagi karena proyek Pertamina yang terus bertambah. Misalnya untuk pengembangan energi baru terbarukan (EBT), sekarang saja sudah kekurangan SDM.

“Kurangnya ribuan dan akan berkembang terus karena banyak proyek baru. Misalnya untuk energi terbarukan, itu pun akan butuh orang,” tuturnya.

Pernah setop rekrutmen

Bambang menambahkan, defisit manajer ini merupakan dampak dari penghentian rekrutmen karyawan pada 1993 sampai 2001. Saat itu Pertamina tak membuka lowongan kerja karena situasi perekonomian yang buruk.

“Kita pernah 8 tahun tidak menerima pekerja dari 1993 sampai 2001. Akibat dari itu, ada gap, kita kekurangan orang di usia 35 sampai 44 tahun. Source-nya kurang. Itu terjadi karena krisis, terjadi di hampir semua BUMN dan pemerintah,” kata Bambang.

Padahal, saat ini Pertamina justru membutuhkan manajer lebih banyak dibanding sebelum-sebelumnya karena adanya proyek-proyek baru di hulu hingga hilir.

Untuk menutup kekurangan manajer ini, Pertamina melakukan percepatan terhadap karyawan di level bawah agar dapat mengisi posisi manajer dan merekrut pekerja level menengah dari luar Pertamina.

“Sementara Pertamina sekarang banyak proyek. Ada proyek RDMP, kilang baru, ekspansi upstream ke luar negeri, ini harus diisi. Enggak mungkin dong leader di tengah ini kita ngambil dari fresh graduate. Pasti akan banyak perekrutan dari luar di samping ada percepatan,” tutur Bambang. (dtc)

Komentar

komentar