Templates by BIGtheme NET
Hari ini : Saturday,18 August 2018

Pertamina Cari Ribuan Manajer, Paling Sulit untuk Kilang Minyak

Yogyakarta – PT Pertamina (Persero) membutuhkan ribuan pekerja baru di level menengah karena 30% manajer mereka akan pensiun dalam waktu 5 tahun ke depan. Hal ini terjadi karena Pertamina pernah menyetop rekrutmen karyawan baru pada 1993 sampai 2001.

Kekurangan pekerja level menengah terjadi di semua direktorat, mulai dari yang mengurusi bisnis hulu, hilir, hingga keuangan. Tapi yang paling sulit dicari penggantinya adalah para menajer di direktorat pengolahan, yang mengelola kilang-kilang minyak.

Sebab, pengelolaan kilang minyak membutuhkan orang-orang dengan keahlian khusus dan tak banyak yang memiliki keahlian tersebut. Di Indonesia pun hanya Pertamina yang memiliki kilang minyak, tak ada perusahaan lain yang memiliki pekerja dengan keahlian tersebut.

Pekerja di bidang pemasaran dan keuangan relatif mudah diperoleh. Pekerja yang ahli untuk pengelolaan hulu migas juga masih bisa diperoleh saat Pertamina mengambil alih blok-blok yang sebelumnya dikelola perusahaan asing. Tapi untuk bidang pengolahan sulit.

“(Kekurangan manager) Terjadi di semua direktorat. Paling susah memang yang spesifik, saya melihat pasti yang agak susah di refinery. Kalau marketing gampang, marketing dari perusahaan mana ditarik ke Pertamina bisa. Keuangan juga sama. Upstream relatif masih agak mudah karena kita dapat ketika mengambil alih blok. Refinery yang agak kelabakan,” kata Wakil Direktur Utama Pertamina, Ahmad Bambang, saat ditemui di Regency Hyatt Hotel, Yogyakarta, Rabu (18/1/2017).

Tapi Pertamina masih punya jalan keluar untuk menutup kekurangan pekerja level menengah di direktorat pengolahan. Pertamina bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan minyak raksasa untuk proyek modifikasi (Refinery Development Master Plan) dan pembangunan kilang baru (New Grass Root Refinery).

Misalnya untuk proyek NGRR Tuban, Pertamina membentuk perusahaan patungan (Joint Venture) dengan Rosneft. Lalu untuk RDMP Cilacap menggandeng Saudi Aramco. Kekurangan pekerja untuk proyek kilang bisa ditutup dengan SDM dari mitra-mitra tersebut.

“Untungnya beberapa proyek kilang kan joint venture, jadi bisa combine. Tapi kan harus Indonesianisasi, kita harus prepare cepat,” ujar Bambang.

Pertamina juga berupaya untuk ‘membawa pulang’ orang-orang Indonesia yang bekerja di perusahaan minyak luar negeri supaya bisa mendapat SDM berkualitas di manajemen level menengah.

“Tenaga kerja Indonesia yang diaspora kerja di perusahaan minyak akan kita tarik, mari bangun negeri,” tutupnya. (dtc)

Komentar

komentar